RSS
Wecome to my Blog, enjoy reading :)

Kamis, 25 November 2010

Aku Untuk Alamku


“Lima puluh lima tahun silam, rumput adalah sahabat terbaikku. Aku berbaring manis beralaskan rumput liar yang tumbuh di tegalan dekat kampung halamanku. Ilalang yang menari-nari dengan gemulai memperindah suasana siangku, membuatku merasa teduh, seolah-olah ‘tak sanggup lagi untuk melanjutkan membaca kumpulan kertas buram dengan sampul bercorak bunga – bunga, saat itu aku lebih suka menyebutnya sebagai buku cerita kesukaanku, hadiah terindah yang pernah aku terima dari seorang wisatawan Belanda, yang pada saat itu berkunjung ke daerahku. Kuingat bagaimana aku kesulitan untuk mengeja namanya, Van Bronckhoorst, dan akhirnya itu melekat hingga saat ini. Tertulis rapi di dalamnya, sebuah cerita tentang anak remaja yang memiliki kekerabatan yang dekat dengan alamnya. Aku terenyuh, mengalir dalam alur ceritanya, dan itu membangkitkan semangatku sebagai kaula muda yang ingin melihat alamku tetap berdendang menghibur para pemujanya. Aku berharap, kelak saat aku tua nanti, aku masih bisa melihat warna – warni alam yang merekah mengelilingiku dan memesona pandanganku.”
Teringatku pada penggalan yang paling terekam di dalam memoriku, bagaimana bibiku menceritakan pengalamannya. Sungguh mengesankan. Dalam batinku, mungkin tidak banyak orang yang mempunyai alur pikiran seperti itu. Mencintai alamnya, tempat kita tumbuh dengan sejuta persembahan darinya. Melihat kenyaataan yang sekarang ini, hatiku cukup terkikis, melihat beton – beton yang semakin menjamur.
“Na, bibi minta tolong, dalam waktu dekat ini, ambilkan bibi uang di ATM, sebentar bibi datang ke rumahmu, untuk berbincang sedikit denganmu,” begitu bunyi tulisan yang kubaca, saat kusadari nada pesan singkat telepon genggamku berdering.
Aku sempat berpikir, ada apa dengannya, baru saat ini ia memintaku untuk melakukannya. Ternyata, bibiku, Puspa, memang tidak bisa mengoperasikan mesin pengambilan uang otomatis itu. Parahnya, bibi tidak bisa melakukan transaksi secara langsung melalui bank, karena terjadi sedikit masalah pada Kartu Tanda Penduduk miliknya yang hilang. Bibi memberikan kata sandi yang cocok dengan ATM miliknya. Ia memintaku untuk mengambil sejumlah uang yang jumlahnya tidak kecil. Hanya saja uang sejumlah itu tidak dapat ditarik dalam satu hari, butuh waktu enam hari untuk mengumpulkannya. Bibiku mengiyakannya dan selalu memintaku untuk berdoa, saat aku melakukan transaksi, mengingat aku ‘tak berpengalaman, menarik uang sebanyak itu.
“Jika bibi tidak keberatan, apa aku boleh tahu, uang sebanyak ini akan bibi apakan?” tanyaku tanpa sungkan, karena sepanjang kisah hidupku, aku sangat dekat dengannya.
“Uang ini untuk membeli tanah seluas tiga puluh are yang ada di kampung halaman kita,” jawabnya dengan singkat.
Aku ‘tak berkedip dalam beberapa detik, mendengarkan ujarannya. Bagaimana bisa bibi melepaskan uang yang cukup banyak itu, hanya untuk membeli tanah yang mungkin bisa dibilang ia tidak memerlukannya lagi, karena aku pikir ia sudah cukup tua untuk membangun rumah baru untuknya. Dengan kondisinya yang seperti ini, sudah tidak lagi berpenghasilan yang tetap. Ditambah lagi dengan kondisi rumah tangganya yang sudah retak, hanya menyisakan kepingan memori, atau bibi hanya menyenangkan batinnya, dengan menghamburkan uang empat puluh juta miliknya, sempat terlintas pikiran seperti itu di kepalaku.
“Ada seorang expatriate Belanda yang ingin membeli tanah di daerah kampung halaman kita, dia akan mendirikan villa di sana. Bibi kenal dengan pemiliknya dan pemiliknya mengiyakan begitu saja permintaan orang Belanda itu. Satu hal yang paling mendasari tindakan bibi, beberapa meter tidak jauh dari tempat itu, ada sebuah pura yang masih berdiri tegak hingga sekarang. Paling tidak, ini hanya tindakan kecilku, aku senang melakukannya,” jelasnya.
Tertegun kumemandang tatapan bibiku yang penuh welas asih. Semua tindakan dan semangatnya untuk menjaga alam yang ia cintai, membuatku menyadari, bahwa sesungguhnya kita tentu masih bisa melakukan tindakan sederhana untuk menyelamatkan kondisi alam kita saat ini. Dari diri kita sendiri, dengan komitmen. Sejak hari itu, aku menguatkan diri untuk mengikuti jejaknya, mencintai alamku dengan hal kecil yang bermanfaat. Menghijaukan areal rumah terlebih dahulu, kemudian menghijaukan sekelilingku, menyayanginya tanpa syarat, seperti yang bibiku telah lakukan selama ini. Hari ini mungkin saja adalah hari terakhirku memandang birunya langit di tanah pusaka yang sakral ini, atau mungkin hanya tersisa beberapa menit lagi, untuk dapat menghirup udara segar dan menghelanya dengan penuh kebahagiaan. Aku tidak akan menyia – nyiakannya, kesempatan untuk mempersembahkan yang terbaik pada alamku ini.


2 comments:

fizer0 mengatakan...

mmhhhh,, sebuah pelajaran yg sangat berharga,,

nice post, salam kenal...


ditunggu kunjungan baliknya...

dalam warnawarni dunia striratna mengatakan...

terimakasih telah mengunjungi dan membacanya :)

salam kenal juga ya.. :)

Posting Komentar