RSS
Wecome to my Blog, enjoy reading :)
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 30 Maret 2011

DEKLARASI PENYELAMATAN BUMI


DEKLARASI PENYELAMATAN BUMI

PADA HARI INI, 27 MARET 2011, DENGAN INI, SAYA:
MADE MANGKU PASTIKA, GUBERNUR BALI, MENDEKLARASIKAN KEPADA MASYARAKAT DUNIA BAHWA TANGGAL 27 MARET SEBAGAI HARI VEGAN ORGANIK DUNIA (WORLD VEGAN ORGANIC) DAN HARI JUMAT SEBAGAI HARI TANPA PRODUK HEWANI (FRIDAY - FREE ANIMAL PRODUCT DAY).

DEMI KESEHATAN, KEDAMAIAN, DAN KESEJAHTERAAN MAKHLUK YANG MENGHUNI ALAM SEMESTA INI. MARILAH BERSAMA-SAMA KITA SALING BAHU MEMBAHU MEMBERI TELADAN MENYELAMATKAN BUMI DARI BAHAYA ANCAMAN GLOBAL WARMING.

UNTUK ITU, SETIAP TANGGAL 27 MARET DAN SETIAP HARI JUMAT, SAYA NYATAKAN SEBAGAI HARI BERSEJARAH BAGI BALI,INDONESIA, DAN DUNIA.

KITA MULAI DARI BALI UNTUK DUNIA.

MUNCAN-KARANGASEM-BALI, MINGGU 27 MARET 2011
GUBERNUR BALI,

MADE MANGKU PASTIKA

GUBERNUR BALI MEMBUKA FESTIVAL PENYELAMATAN BUMI

(Karangasem, 27 Maret 2011). Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, membuka Festival Penyelamatan Bumi, Minggu (27/3), di Ashram Telaga Mas atau Ashram Ratu Bagus Muncan, Selat, Karangasem. Pada kesempatan tersebut Gubernur Bali juga sekaligus mendeklarasikan Hari Organik Vegan Dunia (World Vegan Organik Day) dan menjadikan hari Jumat sebagai hari tanpa produk hewan (Friday-Free Animal Product). Acara ini dihadiri oleh Nyonya Ayu Pastka, PHDI Bali, Bupati Karangasem, Pansus RTRWP Provinsi Bali, para Ida Pandita se-Bali dan pesraman se-Bali.

Dalam sambutannya, Gubernur mengatakan sangat menyambut baik acara ini, karena secara langsung telah mendukung program Pemerintah Bali dalam mewujudkan Bali sebagai Green Province. Terhadap terbentuknya kepengurusan Bali Green Community, Gubernur menilai ini merupakan hal yang positif karena keberadaannya dapat berfungsi sebagai wadah yang strategis dalam mempercepat pemulihan kualitas lingkungan. Diharapkan organisasi ini dapat sebagai mitra pemerintah untuk bersama-sama mempercepat terwujudnya Bali Green Province.

Acara yang mengusung kepedulian terhadap bumi ini diprakarsai oleh Bali Green Community, berawal dari komunitas para pelaku spiritual lintas ashram yang tergabung dalam Dewan Persatuan Pasraman Bali merasa terpanggil dan perlu mengambil langkah nyata terhadap perkembangan kerusakan alam semesta yang sangat memprihatinkan yang berkembang menjadi isu pemanasan global (Global Warming). Pada kesempatan tersebut dilaksanakan Pelantikan Pengurus Bali Green Community. Setelah pelantikan Gubernur berkesempatan melakukan penanaman pohon bersama yang dilanjutkan dengan mengunjungi stand pameran Bahan Organik serta meninjau lokasi pengolahan sampah organik menjadi bio-gas. (http://www.baliprov.go.id/berita/2011/3/gubernur-bali-membuka-festival-penyelamatan-bumi)

Minggu, 13 Februari 2011

Tindakan Hijau Terbaik Saat ini Dimulai dari Piringmu





Sahabat muliaku, saudaraku,
dan semua orang di sekelilingku yang sangat baik dan tulus mencintai perdamaian,
yang mendambakan lingkungan yang bersih dan sehat,
dan yang ingin mewariskan keadaan surgawi di dunia ini bagi generasi mendatang,

Tahukah bahwa kita benar-benar dalam keadaan sangat genting, kita terdesak oleh waktu?


— Ban Ki-moon, sekretaris jendal PBB, dan pada pembukaan konggres IPCC di Cancun, Mexico, Ban Ki-moon yang baru lalu menegaskan bahwa planet kita benar-benar dalam keadaan kritis dan terus bergerak ketika mereka semua sedang berkonggres dan bernegosiasi, “Tahun ini di Cancun, saya kira kira perlu lebih praktis dan realistik,”


“Kita sedang mengalami krisis iklim yang merupakan keadaan sangat genting bagi planet ini.”
— Albert Arnold (Al) Gore Jr, mantan wakil Presiden Amerika Serikat, mendapat hadiah Perdamaian Nobel Prize 2007 atas upayanya membangun dan menyebarkan pengetahuan yang lebih besar tentang perubahan iklim yang terjadi akibat tindakan manusia, dan untuk meletakkan dasar bagi langkah-langkah yang diperlukan untuk melawan perubahan tersebut,” “Krisis iklim ini bukanlah sebuah masalah politik, tetapi adalah tantangan moral dan spiritual untuk semua manusia.”

Apakah hanya karena saat ini kita masih bisa duduk, berbicara dan membaca dengan nyaman dan aman saat ini, hanya karena kita masih bisa membeli air dan tidak merasa kekurangan pangan, lalu kita merasa bahwa planet kita sedang dalam kondisi aman dan kita tidak perlu bergerak cepat?

Padahal krisis terhadap planet ini bergerak makin parah dan makin cepat. Bila tidak bertindak sangat cepat maka kelak tidak ada lagi yang tersisa untuk kita walaupun kita ingin melindunginya. Pada saat itu mungkin segala sesuatunya sudah menjadi terlambat.
Para ilmuwan dunia khawatir jika kita melampaui titik kritis tertentu, akibat perubahan iklim tahap berikutnya bukan saja cepat tapi tak dapat diperbaiki lagi dan menjadi bencana besar. Mereka sudah melihat tanda-tanda bahwa kita mendekati titik kritis itu, Dari observasi pada berbagai danau besar dan di tempat-tempat lain terlihat bahwa gas metana yang dahulu tersimpan dengan aman di bawah lapisan beku Bumi sekarang mulai keluar dan menimbulkan gelembung-gelembung gas.
Tak seorang pun bisa menentukan kapan gas-gas metana tersebut akan keluar bersamaan dalam jumlah besar dan menyebabkan kenaikan temperatur berikutnya dengan sagat tajam tanpa bisa dihentikan denan cara apapun..

Selain itu, perubahan iklim juga telah membuat berbagai kehancuran yang lain :
- Lapisan es Kutub Utara yang berguna memantulkan energi matahari balik ke luar angkasa saat ini sedang menuju tahap menghilang seluruhnya dan diperkirakan akan terjadi pada beberapa musim panas yang akan datang;
- Kenaikan permukaan laut dan puluhan pulau sedang tenggelam atau terancam tenggelam. Jakarta, Singapore dan berbagai wilayah lain sudah berada di bawah permukaan air laut.
- Wilayah laut menjadi tanpa kehidupan karena meluasnya zona mati yang sifatnya terlalu asam untuk dihuni karena tingkat berlebih dari CO2;
- Kebakaran hutan yang semakin sering;
- Kepunahan seluruh spesies liar yang 100 kali lebih cepat dari normal;
- Tingkat badai makin intens dan merusak;
- Nyamuk penyebar penyakit tersebar karena wilayah-wilayah menghangat;
- Hilangnya gletser dunia; mengering atau hilangnya danau dan sungai yang jumlahnya puluhan ribu dan menyebarnya gurun pasir. Di berbagai gurun pasir di India sekarang terdapat timbunan es dan hujan salju, padahal hal ini belum pernah terjadi sebelumnya.
- Dua miliar orang menghadapi kekurangan air, dan 20 juta orang dalam kondisi putus asa — seperti pengungsi perubahan iklim yang tak mendapat perlindungan resmi.

Bila bencana tiba, kita hanya bergerak mengevakuasi orang dan mengirim bantuan bencana. Bila terjadi perang, orang-orang diberitahu tentang cara melindungi diri dan juga mengevakuasi mereka ke tempat yang lebih aman. Tetapi, saat ini keadaannya jauh lebih genting daripada perang. Pemerintah dan kita harus memberitahukan kepada semua orang tentang keadaan genting ini. Sudah saatnya kita segera bertindak. Para pemimpin negara harus melakukan sesuatu. Orang-orang dari seluruh negara harus melakukan sesuatu yang cepat dan tepat. Pemerintah harus menjelaskan kepada warganya bahwa kita benar-benar dalam keadaan yang genting saat ini. Ini bukanlah pilihan pribadi lagi. Ini adalah masalah hidup dan mati sebuah planet.

Kerusakan tertinggi yang terjadi di planet ini adalah akibat perubahan iklim atau pemanasan global. Jadi yang paling utama yang harus kita lakukan adalah mendinginkan planet ini dahulu. Dan cara terbaik untuk menghentikan pemanasan global adalah menghentikan emisi gas rumah kaca yang mengepung panas kembali ke luar angkasa.
Kita telah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, baik dengan cara penanaman pohon maupun pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor industri dan transportasi. Tetapi perubahan di sektor ini membutuhkan waktu terlalu lama – lebih lama dibandingkan dengan laju kerusakan saat ini.
Menanam pohon, misalnya, kita memerlukan waktu lebih dari sepuluh tahun agar pohon itu menjadi dewasa dan siap menyerap karbon dioksida, padahal waktu kita semakin pendek, tinggal beberapa tahun tersisa untuk menghindari titik kritis. Menghentikan sektor industri dan transportasi pun sangat mustahil dilakukan, bahkan mengurangi hingga 10% pun memerlukan penelitian yang lama dan biaya yang sangat besar.
Sudah saatnya kita mencari solusi yang jauh lebih cepat dan efektif serta sederhana. Sembari melakukan berbagai langkah yang sudah kita lakukan itu semua, marilah kita menyelesaikannya pada pokok permasalahannya, yaitu dengan menghilangkan sumber produksi metana terbesar di dunia. Metana tidak hanya memerangkap panas 72 kali lebih besar daripada CO2, tetapi umurnya di atmosfer juga jauh lebih pendek daripada CO2. Oleh karena itu, jika kita berhenti menghasilkan metana, atmosfer akan mendingin lebih cepat daripada jika kita berhenti menghasilkan karbon dioksida.

“Metana memanaskan Bumi 72 kali lebih besar daripada CO2 dalam jangka waktu 20 tahun.”
— Intergovernmental Panel on Climate Change

“Metana memanaskan Bumi 100 kali lebih besar daripada CO2 dalam jangka waktu lima tahun.”

“Satu ton metana yang dilepaskan hari ini akan menghasilkan pemanasan lebih besar dalam satu tahun daripada dampak satu ton CO2 yang dilepaskan hari ini hingga tahun 2075.”
— Dr Kirk Smith, Professor of Global Environmental Health, University of California, Berkeley


“Es abadi bersifat seperti bom waktu yang menunggu meledak—saat ia terus mencair, puluhan ribu teragram metana dapat dilepaskan ke atmosfer, sehingga akan semakin memanaskan atmosfer. Sumber metana yang baru diketahui ini tidak dimasukkan ke dalam model-model iklim.” (satu teragram = satu juta ton)
— Dr. Katey Walters,Aquatic Ecosystem Ecologist at the University of Alaska

Dan, produksi metana terbesar di dunia berasal dari sektor peternakan. Oleh karena itu, cara paling cepat untuk mendinginkan planet ini adalah dengan berhenti makan daging untuk menghentikan industri hewan, dan hal ini juga akan menghentikan emisi gas rumah kaca dan gas beracun yang lain yang timbul dari industri hewan.

Peternakan—Pengemisi Metana Terbesar
CO2 bukanlah ancaman terburuk bagi kita, tetapi metana lah yang terburuk
dan metana sebagian besar berasal dari pengembakbiakkan hewan.

Jadi, kita harus menghilangkan pengemisi yang terpenting itu. Kita akan menghancurkan dunia jika kita tak berhenti makan dan memproduksi daging serta produk hewani yang lainnya.
Semoga semua pemimpin menjadi lebih bijaksana, yaitu segera menghentikan praktek produksi daging, yang mematikan itu, yang merupakan pendorong utama yang membawa kita kepada titik tanpa harapan. Jika tidak, semua usaha dekarbonisasi ekonomi kita tidak akan memberikan efek yang nyata, atau kita tidak pernah punya kesempatan sama sekali untuk mengatasiya kembali.

Jika makan daging tidak dilarang atau tidak dibatasi maka seluruh planet akan lenyap. Lagi-lagi, ini adalah persoalan hidup dan mati untuk semua orang, bukan pilihan pribadi. Jika kita makan daging, kita menelan seluruh planet, menelan 90% persediaan makanan dan membiarkan orang lain kelaparan. Tidak selayaknya kita melakukan hal itu.
Bahkan, sebelum krisis terjadi di planet ini, peternakan telah menelan seluruh sebagian besar planet ini, menelan begitu banyak makanan dan menyebabkan kelaparan serta juga peperangan.

“Jika kita tidak mengubah pilihan makanan kita, apapun yang kita lakukan tidak akan membawa manfaat, karena daging yang paling banyak merusak hutan kita, Daging menyebabkan polusi air. Daging lah yang menyebabkan penyakit yang membuat kita menghabiskan uang untuk rumah sakit. Jadi ini adalah pilihan utama bagi siapa pun yang ingin menyelamatkan Bumi”
— Maneka Gandhi
PBB mendesak orang di seluruh dunia untuk bertindak menuju pola makan tanpa daging dan produk susu:
“Dampak buruk peternakan diperkirakan akan meningkat sangat besar karena pertumbuhan populasi dunia telah meningkatkan konsumsi produk hewani. Penurunan dampak buruk itu secara besar hanya mungkin dilakukan dengan perubahan pola makan dunia yang mendasar yaitu menjauhi produk hewani.”


Pada tahun 2009, setelah majalah kedokteran
The Lancet mengeluarkan laporan penting yang
berjudul “Dampak Kesehatan dari Perubahan
Iklim”, Sekretaris Jenderal PBB Ban menegaskan
bahwa perubahan gaya hidup yang direkomendasi-
kan oleh para ilmuwan akan sungguh bermanfaat
bagi kesehatan dan meredakan pemanasan global.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon: “Para ahli
mengatakan bahwa makan lebih sedikit daging juga akan meminimalkan dampak kita
pada lingkungan dan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca. Pernyataan ini
sangat jelas: perubahan iklim adalah tentang kesehatan kita dan kesehatan planet kita.”
Video berita selengkapnya dengan kualitas tinggi bisa diunduh di:
http://www.suprememastertv.com/ina/nwn/?wr_id=1072&page=1
Saksikan videonya di youtube: http://www.youtube.com/watch?v=5xSyuuFMkyo



Dr. Rajendra Pachauri, Ketua Perubahan Iklim Dunia,
IPCC, mengatakan bahwa peternakan adalah pengemisi gas
rumah kaca terbesar dan beliau mengajak semua orang
untuk berhenti makan daging.
http://www.youtube.com/watch?v=KoIh9J6biQ&feature=player_embedded







Al Gore mengingatkan agar kita Menghentikan “Industri Pertanian” (=Factory Framing, “…is a term used for large production or raising livestock in confinement at high stocking density, where a far operates as a factory – a practice typical in industrial farming by agribusinesses. The main product of this industry is meat, milki and eggs for human consumption, ,http://en.wikipedia.org/wiki/Factory_Farming)
http://www.youtube.com/watch?v=2yEar70-xFo&feature=player_embedded




Tindakan menggantikan produk hewani tidak hanya mampu mengurangi gas rumah kaca di atmosfer, tetapi juga dapat mengatasi krisis pangan dan air di dunia yang sedang berlangsung saat ini”
— World Watch Institute
Semakin cepat kita berubah, akan makin baik, sehingga kita dapat menghentikan perubahan iklim. Dan kita akan dapat memulihkan planet ini dengan sangat cepat dan segera, tetapi jika kita tidak melakukannya maka planet ini juga akan begitu cepat dan segera hancur.

Vegetarian haruslah menjadi pandangan hidup kita. Tidak ada yang perlu didiskusikan lagi mengenai hal ini.
Kita harus menyadari bahwa tidak ada pilihan lain kecuali berubah. Kita mau berubah, atau semuanya lenyap.
Tidak ada pilihan lagi sekarang ini.

“Peternakan adalah salah satu kontributor paling signifikan terhadap masalah lingkungan yang paling serius saat ini. Kita perlu bertindak segera dan cepat untuk memperbaiki situasi ini.”
—Dr. Henning Steinfeld, Chief of Livestock Information and Policy Branch, FAO, UN.

“Peternakan merupakan pendorong utama terjadinya pembabatan hutan. Peternakan merupakan sumber terbesar atas pencemaran air. Peternakan menghasilkan gas rumah kaca lebih dari semua gas rumah kaca yang diemisikan oleh gabungan transportasi seluruh dunia”
—Livestock’s Long Shadow


“Jangan makan daging. Ini adalah perkataan yang dulu takut dikatakan oleh IPCC, tetapi sekarang kami telah mengatakannya: Tolong kurangi makan daging —daging adalah komoditas yang sangat intensif karbon”
—Dr. Rajendra K. Pachauri, Chairman of IPCC
(http://www.theglobeandmail.com/news/world/article661961.ece.)

“Tak ada yang bermanfaat bagi kesehatan manusia dan meningkatkan kesempatan untuk bertahan hidup di atas Bumi selain evolusi menuju pola makan”
—Albert Einstein
(Jerry Mayer dan John P. Holms eds., Bite-size Einstein, Quotations on Just About Everything From the Greatest Mind of the Twentieth Century. St. Martin's Press, New York, 1996, p. 10)
.
Tetapi, pertemuan perubahan iklim para pemimpin dunia yang pertama kali dilakukan di Kyoto Jepang dan sekarang sedang berlangsung di Mexico serta akan terus berulang kali, tidak nampak menghasilkan apa-apa yang berarti. Mereka hanya tergerak melakukan tawar menawar penjualan karbon, bernegosiasi berapa emisi gas rumah kaca yang hendak mereka turunkan, dan berjuang habis-habisan untuk mendapatkan dana untuk mengatasi perubahan iklim. Seakan semuanya terbungkam dan terlena bahwa keadaan planet ini sudah benar-benar genting. Gerakan-gerakan yang terlihat di masing-masing negara masih berkisar pada hal-hal yang sejak beberapa dasawarsa yang lalu sudah dilakukan, mereka tidak melakukan pada akar permasalahan yang sesungguhnya. Kata-kata “green” hanyalah sebuah slogan yang terus dikumandangkan dan menjadi tren di mana-mana tanpa penerapan yang berarti. Data ilmiah dari para ilmuwan seakan hanya sebagai tumpukan dan pelengkap perpustakan mereka saja.

‘Green’ tentu tidak berarti ‘penghijauan’ atau sekedar ‘penanamapan pohon’ tetapi lebih merupakan ‘tindakan ramah lingkungan’. Jadi, karena perusakan lingkungan terbesar adalah sektor pengembangbiakkan hewan maka kalau kita masih mengkonsumsi daging, tak layaklah kita mengatakan bahwa kita bertindak “green”.

Kita tak perlu mati untuk menyelamatkan Bumi yang indah ini. Cukup dengan melakukan pola makan vegan dan berusaha untuk organik, kita dapat menyelamatkan Bumi.

Sebarkan semua informasi ini dan segeralah bertindak menjadi vegan, atau kita tidak punya kesempatan apapun lagi untuk menyelamatkan Bumi ini.

Kalau pemerintah belum bergerak, kalau teman-teman belum tergerak, kalau media belum banyak melakukan, marilah bersama kami yang berada di seluruh penjuru dunia untuk menjadi vegan dan memberitahu mereka semua untuk bergerak bersama.
Dukung pemerintah untuk berani bertindak dan memutuskan.
Beritahu saudara dan semua sahabat serta orang dekat kita tentang pola hidup yang sangat menyehatkan tubuh dan planet ini.
Katakan kepada media, tulis di tempat mereka tentang bahaya mengkonsumsi produk hewani bagi tubuh dan planet ini.
Informasikan kepada para pekerja kesehatan, baik dokter, pekerja rumah sakit, apotek dst bahwa susu formula sangat tidak baik bagi kesehatan bayi dan juga sangat merusak lingkungan.
Beritahukan kepada semua tentang bahaya logam berat, merkuri, yang begitu berbahaya bagi kesehatan otak dan terdapat pada semua jenis ikan dan hewan laut yang lain!
Semua orang perlu tahu bahwa kolesterol, kandungan antibiotika, hormon pertumbuhan hingga ‘pestisida dan insektisida’ justru lebih banyak terdapat pada sekerat daging daripada seonggok sayuran yang sudah dicuci, justru lebih banyak terdapat pada sebutir telur daripada satu buah mangga, dan justru sangat-sangat banyak terdapat segelas susu formula.

Wahai sahabat dan saudaraku terkasih,
Marilah kita segera bergandengantangan, bergerak bersama untuk menyelamatkan Bumi ini dengan cara yang begitu sederhana, yaitu menjadi vegan dan berusaha organik.

Salam kasih sayang dan perdamaian,


Tim Penyayang Bumi
(informasi lebih lanjut bisa didapatkan di www.SupremeMasterTV.com, atau di www.crisis2peace.org)

Selasa, 01 Februari 2011

Tegur Orang Buang Sampah Sembarangan, Pedang Menghunus ke Arahnya


Miris, miris hati sambil tertawa terbahak-bahak, mata terbelalak mendengar pamanku bercerita tentang berita menggelitik di koran lokal daerahku. Pamanku adalah seorang pengamat dan pencinta lingkungan yang sudah mulai mendedikasikan dirinya sejak umurnya masih belia. Akupun terinspirasi karenannya. Beliau senang sekali menulis artikel di kolom ‘Surat Pembaca’. Apa yang ditulis bukanlah tentang keluhannya sebagai masyarakat Indonesia yang mengkritik pemerintah tanpa memberi solusi, atau bukanlah adu kata tentang politik masa kini. Namun, jauh lebih kompleks, mendesak, dan lebih penting dari itu. Realita tingkah laku masyarakat terhadap lingkungannya. Tulisan-tulisannya berupa sindiran fakta yang membangun serta memberikan solusi secara langsung. Berharap masyarakat Bali yang membacanya mulai paham dan meningkatkan kesadaran mereka akan lingkungan mereka. Setelah kami berbincang, tak kusangka keesokan harinya ketika aku membaca surat kabar, munculah lagi tulisn pamanku di ‘Surat pembaca’.



‘Menarik berita Bali Post, jumat 28 januari 2011 tentang seorang warga Bali yang marah kemudian ambil pedang dan menantang kerabatnya, tak terima ibunya ditegur membuang sampah sembarangan. Syukur si pengancam berpedang sudah diadukan dan ditahan polisi. Semestinya sang kerabat yang marah-marah ambil pedang, karena orang-orang bandel membuang sampah di areal miliknya. Tampaknya dia masih bisa menahan diri.
Kedepannya di pulau Tri Hita Karana ini bukan saja soal berebut waris, PIL, dan WIL yang menjadi sumber keributan. Sampah akan menjadi pemicu serius kekerasan antar warga kalau tak segera di antisipasi dan disikapi. Siapa yang sudi berlama-lama lahannya menjadi tempat pembuangan sampah? Sampah yang makin beragam bahannya, tak mudah hancur, dan membahayakan kesehatan. Berita ini semestinya menjadi PR bagi semua. PR sampah: dibicarakan dari daerah tingkat 1 sampai ke tingkat banjar. Sudah saatnya banjar-banjar berperan lebih dari tempat membicarakan urusan ngulat klangsah dan maebat.
Adakah Tri Hita Karana itu punya roh? Atau sekadar retrorika penyedap rasa, pembuat bangga namun tak berdaya. Kalau memang ada yang merasakan roh itu, ayo cerminkan dalam keseharian. Harmonislah dengan sampah sendiri, urus sampah semaksimalnya di rumah masing-masing sebelum lepas tanggung jawab melemparnya ke tempat orang lain atau ke pemerintah. Adakah kita peduli?’(Surat Pembaca, Bali Post; Sabtu Kliwon, 29 Januari 2011)
Hah, ada-ada saja perilaku manusia jaman sekarang. Sungguh kasihan pikirku, memiliki kepribadian seperti itu. Untung saja ketika aku beberapa kali menegur orang yang sedang membuang sampah sembarangan, di sungai ataupun di jalanan, belum pernah mengalami hal-hal seperti ini. Kalau saja aku menemukan orang seperti itu, aku akan berkawan dengannya, meracuni dengan paksa virus-virus kebaikan seperti yang telah biasa aku lakukan kepada kawan-kawan atau orang-orang sekitarku. JANGAN TAKUT BERBUAT KEBAIKAN.

Keterangan:
Tri Hita Karana merupakan falsafah dan ideologi umat Hindu yang menjunjung tinggi hubungan harmonis antara Tuhan, sesama manusia, dan hubungan dengan lingkungannya.

Kamis, 25 November 2010

Aku Untuk Alamku


“Lima puluh lima tahun silam, rumput adalah sahabat terbaikku. Aku berbaring manis beralaskan rumput liar yang tumbuh di tegalan dekat kampung halamanku. Ilalang yang menari-nari dengan gemulai memperindah suasana siangku, membuatku merasa teduh, seolah-olah ‘tak sanggup lagi untuk melanjutkan membaca kumpulan kertas buram dengan sampul bercorak bunga – bunga, saat itu aku lebih suka menyebutnya sebagai buku cerita kesukaanku, hadiah terindah yang pernah aku terima dari seorang wisatawan Belanda, yang pada saat itu berkunjung ke daerahku. Kuingat bagaimana aku kesulitan untuk mengeja namanya, Van Bronckhoorst, dan akhirnya itu melekat hingga saat ini. Tertulis rapi di dalamnya, sebuah cerita tentang anak remaja yang memiliki kekerabatan yang dekat dengan alamnya. Aku terenyuh, mengalir dalam alur ceritanya, dan itu membangkitkan semangatku sebagai kaula muda yang ingin melihat alamku tetap berdendang menghibur para pemujanya. Aku berharap, kelak saat aku tua nanti, aku masih bisa melihat warna – warni alam yang merekah mengelilingiku dan memesona pandanganku.”
Teringatku pada penggalan yang paling terekam di dalam memoriku, bagaimana bibiku menceritakan pengalamannya. Sungguh mengesankan. Dalam batinku, mungkin tidak banyak orang yang mempunyai alur pikiran seperti itu. Mencintai alamnya, tempat kita tumbuh dengan sejuta persembahan darinya. Melihat kenyaataan yang sekarang ini, hatiku cukup terkikis, melihat beton – beton yang semakin menjamur.
“Na, bibi minta tolong, dalam waktu dekat ini, ambilkan bibi uang di ATM, sebentar bibi datang ke rumahmu, untuk berbincang sedikit denganmu,” begitu bunyi tulisan yang kubaca, saat kusadari nada pesan singkat telepon genggamku berdering.
Aku sempat berpikir, ada apa dengannya, baru saat ini ia memintaku untuk melakukannya. Ternyata, bibiku, Puspa, memang tidak bisa mengoperasikan mesin pengambilan uang otomatis itu. Parahnya, bibi tidak bisa melakukan transaksi secara langsung melalui bank, karena terjadi sedikit masalah pada Kartu Tanda Penduduk miliknya yang hilang. Bibi memberikan kata sandi yang cocok dengan ATM miliknya. Ia memintaku untuk mengambil sejumlah uang yang jumlahnya tidak kecil. Hanya saja uang sejumlah itu tidak dapat ditarik dalam satu hari, butuh waktu enam hari untuk mengumpulkannya. Bibiku mengiyakannya dan selalu memintaku untuk berdoa, saat aku melakukan transaksi, mengingat aku ‘tak berpengalaman, menarik uang sebanyak itu.
“Jika bibi tidak keberatan, apa aku boleh tahu, uang sebanyak ini akan bibi apakan?” tanyaku tanpa sungkan, karena sepanjang kisah hidupku, aku sangat dekat dengannya.
“Uang ini untuk membeli tanah seluas tiga puluh are yang ada di kampung halaman kita,” jawabnya dengan singkat.
Aku ‘tak berkedip dalam beberapa detik, mendengarkan ujarannya. Bagaimana bisa bibi melepaskan uang yang cukup banyak itu, hanya untuk membeli tanah yang mungkin bisa dibilang ia tidak memerlukannya lagi, karena aku pikir ia sudah cukup tua untuk membangun rumah baru untuknya. Dengan kondisinya yang seperti ini, sudah tidak lagi berpenghasilan yang tetap. Ditambah lagi dengan kondisi rumah tangganya yang sudah retak, hanya menyisakan kepingan memori, atau bibi hanya menyenangkan batinnya, dengan menghamburkan uang empat puluh juta miliknya, sempat terlintas pikiran seperti itu di kepalaku.
“Ada seorang expatriate Belanda yang ingin membeli tanah di daerah kampung halaman kita, dia akan mendirikan villa di sana. Bibi kenal dengan pemiliknya dan pemiliknya mengiyakan begitu saja permintaan orang Belanda itu. Satu hal yang paling mendasari tindakan bibi, beberapa meter tidak jauh dari tempat itu, ada sebuah pura yang masih berdiri tegak hingga sekarang. Paling tidak, ini hanya tindakan kecilku, aku senang melakukannya,” jelasnya.
Tertegun kumemandang tatapan bibiku yang penuh welas asih. Semua tindakan dan semangatnya untuk menjaga alam yang ia cintai, membuatku menyadari, bahwa sesungguhnya kita tentu masih bisa melakukan tindakan sederhana untuk menyelamatkan kondisi alam kita saat ini. Dari diri kita sendiri, dengan komitmen. Sejak hari itu, aku menguatkan diri untuk mengikuti jejaknya, mencintai alamku dengan hal kecil yang bermanfaat. Menghijaukan areal rumah terlebih dahulu, kemudian menghijaukan sekelilingku, menyayanginya tanpa syarat, seperti yang bibiku telah lakukan selama ini. Hari ini mungkin saja adalah hari terakhirku memandang birunya langit di tanah pusaka yang sakral ini, atau mungkin hanya tersisa beberapa menit lagi, untuk dapat menghirup udara segar dan menghelanya dengan penuh kebahagiaan. Aku tidak akan menyia – nyiakannya, kesempatan untuk mempersembahkan yang terbaik pada alamku ini.


Jika Aku Menjadi Menteri Lingkungan Hidup





“Apakah sesungguhnya ia ingin tahu semuanya? Semua tentang kejadian sesungguhnya.... Ini semua hanya karena kau menyakitiku. Kau yang selama ini memberikanku senyuman. Menutupi semua kesakitan menit-menitku.... Aku hanyalah sehelai rumput kuning, kering.... Bergoyang kaku ketika ia menghembuskan anginnya padaku.... Bertahun-tahun menanti.... Namun hujan tak kunjung menghijaukanku.... Meski sesungguhnya setetes mereka telah memberiku, sayang aku tetaplah rumput....
Wahai belalang, apalah yang bisa aku berikan kepadamu, lihatlah yang kupunya hanya sehelai daun kering...itupun hidupku. Andai kau ingin memakannya, makanlah.... Meski itulah saat terakhir aku melihatmu di dunia ini. Dunia yang kian mengering oleh tangan tak bertanggungjawab.”
"Selamat pagi, Pak. Ini dengan Ina di Tunjung Biru, saya minta tolong, kali yang cukup besar di dekat rumah saya penuh dengan sampah," suaraku yang lembut menyapa operator Dinas Kebersihan Perkotaan di pagi yang lembab oleh hujan.
"Tunggu sebentar ya, dik. Saya sambungkan ke bagian Pekerjaan Umum, nanti bisa langsung berbicara dengan pihak PU," sahutnya.
"Terimakasih, Pak," timpalku.
"Halo, selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Selamat pagi, Bu. Saya salah satu warga di Tunjung Biru, saya ingin meminta bantuan pekerja PU untuk membersihkan sungai yang ada di seputaran...”
“Tunggu sebentar ya, Dik. Saya panggilkan pimpinan pekerjanya,” potong operator itu.
Kupandangi putaran detik jam dindingku, seolah dia berkata, “Berapa kali kau telah menghubungi para pekerja itu untuk memohon bantuan, tidakkah kau merasa iba dengan perjuangan mereka?”
“Tentu saja aku iba.”
“Bagaimana, Dik. Ada yang bisa saya bantu?” sahutya dengan lembut dari seberang sana.
Sejenak ‘ku tertegun mendengar nada suaranya yang penuh dengan semangat pelayanan yang ‘tak kenal lelah.
“Halo?” dia memastikan, bahwa masih ada nafas diseberang sini.
“Iya, Pak. Selamat pagi, perkenalkan nama saya Ina, saya yang biasanya menghubungi PU ketika air kali di dekat rumah saya meluap. Pagi ini saya meminta bantuan bapak-bapak pekerja PU sehubungan dengan hal ini. Maaf merepotkan, Pak,” dengan lembut kulantunkan permintaanku.
“Iya, Dik. Saya cek terlebih dahulu petugas disini, di daerah mana itu tempatnya? Juga sertakan nomer telepon adik,” timpalnya.
Oh, Tuhan.... Berkatilah orang-orang seperti mereka ini, ‘tak kuasa aku menahan butiran air mataku yang telah menari lembut, memaksa mengalir tetes demi tetes. Sensitif, itulah aku. Satu hal yang dapat aku pelajari dari sisi melankolisku ini adalah saat aku terenyuh, mata batin terbuka, merasakan apa yang aku rasa yang aku pikir itu adalah hal yang patut untuk dirangkul, terutama mereka yang terlihat jauh kurang beruntung oleh si kedua bola mata. Namun, sesungguhnya mereka jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang tidur beralaskan kasur yang terbuat dari karet, yang konon sangat nyaman dan empuk, berbantal bulu angsa, dan berselimutkan bulu domba berkulit tebal dan halus. Karena dibalik semua pengorbanan dan pembelajaran akan ‘kekurangberuntungannya’ itu, suatu saat nanti mereka akan lebih siap menerima apapun yang dipersembahkan Tuhan kepada mereka.
“Terimakasih, Pak,” kata itu mengalun setelah kusampaikan detil dimana tempat daerahku tinggal berada.
***
Aku berdiri disini, di pinggiran kali yang telah menyerupai daratan basah. Air yang seharusnya menjadi penghuni utama kali itu telah mengalir, memenuhi petak-petak persawahan yang ada disampingnya. Sungguh malang nasib petani penanam benih padi yang baru saja ditanam seminggu sebelum hari ini, sawahnya tebenam dengan air kali ini.
Sembari kumenanti kedatangan para petugas, aku pandangi keseluruhan isi kali itu.
"Ah, plastik. Sang air sebagai penghuni utama mungkin telah menobatkannya sebagai kerabat terdekatnya saat ini," gerutuku.
Bagaimana bisa mereka melakukan perbuatan ini, seperti 'tak ada cara lain untuk mengatasi kasur yang sudah lapuk buat mereka, terlalu.
"Cekriiiiit...," suara kamera kantong milik paman yang sengaja aku pinjam untuk mengabadikan hasil dari pola perilaku anak manusia yang mungkin sudah 'tak lagi memiliki akal sehat.
Mataku masih mencari-cari 'mangsa', apa yang sekiranya 'unik' untuk ditangkap meski 'tak sedap dipandang mata.
Astaga, bangkai babi yang ‘tak bernyawa pun mereka buang di tempat ini. Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran mereka.
“Mungkin memang sudah harus menjadi nasibmu, oh babi, diperlakukan seperti ini oleh pemilikmu, habis manis sepah dibuang. Semoga suatu saat nanti kau diberikan kesempatan untuk menjadi makhluk seperti kami, dan memperbaiki semua hidupmu,” kulantunkan doa perpisahan untuknya.
"Hidupmu indah, bila kau tahu, jalan mana yang benar...," nada ini samar-samar keluar dari kantong celanaku.
"Na, kamu masih di depan Tunjung Biru? Apa pertugas kebersihannya sudah datang? Airnya sudah semakin tinggi, dari yang hanya membanjiri halaman kita, mengalir sampai ke ruang tamu," bunyi pesan singkat yang baru saja kubaca.
Terkadang aku berpikir disinilah letak ketidakadilan Sang Pencipta.
“Mereka yang melakukan perbuatan ini, mengapa harus kami yang menjunjung tinggi nilai persahabatan dengan alam yang mengalami hasil dari buah perbuatan mereka,” pikiran liarku memenuhi kepalaku.
Oh, maafkan hamba, Tuhan. Beberapa detik yang telah lalu, aku tidak dapat mengendalikan pikiran liarku. Aku kembali menetralisir pikiranku dengan mengambil sisi positif, apa yang terjadi sehubungan dengan hal ini.
Meski sekarang aku begitu menyayangi alam, menyerukan kecintaan untuk alam kepada siapa saja, mungkin yang terjadi kali ini adalah buah hasil perbuatan di masa laluku, mungkin saat lalu aku ‘tak memiliki hati nurani kepada sang alam.
***

“Selamat pagi, Bu. Saya Ina yang sekitar dua jam yang lalu menghubungi kantor Pekerjaan Umum, ingin sedikit bertanya, apakah sudah ada petugas yang akan turun untuk membantu kami membersihkan kali besar di Jalan Tunjung Biru?” kuhabiskan lagi kredit pulsaku untuk memastikannya.
“Maaf, Dik. Mungkin saja masih dalam perjalanan, mohon ditunggu sebentar, karena petugas kami tidak hanya bekerja untuk membersihkan kali yang ada di dekat rumah adik Ina saja. Ini di dekat rumah adik sering sekali rasanya kalinya sampai kepenuhan dengan sampah-sampah yang ‘tak sewajarnya di buang disana, bagaimana itu masyarakat disana tidak bisa beretika, moralnya sangat tidak bagus sekali,” keluh operator yang rupanya kali ini adalah seorang bapak.
“Iya, Pak. Maaf sekali saya yang selalu menelepon dan selalu merepotkan bapak-bapak pekerja umum,” nadaku lirih.
“Coba sekali-sekali dibiarkan begitu, Dik. Biar tahu rasa mereka. Terkadang kami juga lelah menghadapinya. Siapa disana ketua lingkungannya?” nadanya ketus.
“Saya juga inginnya memberi ganjaran yang setimpal, Pak. Agar mereka yang membuang sampah disanalah yang menanggung akibat dari perbuatan mereka yang ‘tak bermoral. Tapi apa boleh dibuat, Pak, Tuhan berkata lain. Air itu selalu mengalir ke rumah saya dan sanak saudara yang kebetulan bertetangga dengan saya. Padahal kami sama sekali tidak pernah membuang sampah ke tempat itu, sekalipun hanya dedaunan kering. Menyayangi alam selalu menjadi moral utama yang ditanamkan keluarga bahkan sesepuh kami kepada anak cucunya,” mungkin ini adalah curahan hatiku kepada bapak itu.
“Baiklah, terimakasih ya, Dik. Sesungguhnya, saya sebagai kepala bagian disini, merasa sangat senang sekali apabila masyarakat Denpasar khususnya masih ada yang peduli dan mau menghubungi PU. Nanti, jangan bosan-bosan untuk menelepon ya, kami akan layani,” sahutnya.
Kurasakan air mataku menetes lembut di pipiku. Ahh, sisi sensitifku selalu saja berperan aktif, aku terharu.
Terimakasih Tuhan telah menciptakan orang-orang terbaik untuk bumiMu tercinta ini. Mereka yang rela melakukan hal-hal yang sangat belum tentu orang lain mau melakukannya, dengan upah yang tak sebanding. Mereka turun ke ruang yang sesak penuh dengan kumpulan barang-barang bekas yang tak bertuan. Sedikit demi sedikit seisi kali itu dikeluarkan, dikumpulkan dengan truk hijau besar yang selalu menemani para petugas itu saat bekerja dengan penuh ikhlas. Sesekali mereka menyelam ke dasar kali, memasuki daerah bawah jembatan untuk memastikan apakah ada yang tertinggal untuk mereka angkut ke atas.
“Dapatkah kau bayangkan itu, kawan?” tanyaku dalam hati.
Hatiku terasa perih, namun aku tak ingin mengeluarkan tangisku di hadapan mereka, kutemani mereka yang bekerja sambil tersenyum dan bernyanyi-nyanyi kecil. Kali ini imbalan yang bisa aku berikan kepada mereka adalah senyum termanis dan doa tulusku untuk mereka. Kukirimkan pesan kepada Yang Kuasa, aku ingin mereka selalu hidup sehat, sejahtera, dan berkecukupan.
“Terimakasih bapak-bapak semuanya,” pamitku serta jabat tangan yang hangat dengan mereka.
Pembelajaran yang aku dapatkan dari hal ini adalah semua pekerjaan yang dilakoni setiap manusia di dalam kehidupan ini sangatlah berguna. Tidaklah perlu kita memandang dengan sebelah mata bagaimana mereka melakukannya. Mungkin mereka yang lain memandang pekerjaan ini adalah pekerjaan yang ‘tak bermartabat. Tetapi, di mata Tuhan, justru merekalah yang dibesarkan untuk menjadi bermartabat. Rangkulah siapa saja, siapa saja....
***

Kuberjalan pelan menuju rumah, dan sesampainya aku dirumah, kudapati rumahku serta dua rumah lainnya tergenang air. Tapi bisa dikatakan, di tempatku berteduhlah yang paling menampung banyak air, terlihat seperti rakit beratap yang sedang mengapung.
Ini bukan kali pertama aku mengalami hal ini. Sejak tahun lalu, ini sudah terjadi selama empat kali dalam dua tahun ini.
“Bu, petugasnya sudah datang. Tapi sedikit agak terlambat ya, Bu. Rumah kita sudah tergenang mendahului kedatangan mereka,” kata sambutanku kepada ibuku.
“Tidak apa-apa, ini belum separah lumpur lapindo,” sahut ibuku.
Ibuku adalah sosok selalu mengajarkan aku untuk berpikir positif di dalam menghadapi suatu tantangan seperti ini.
Ya, tantangan. Kami lebih senang menyebutnya tantangan. Mungkin bagi mereka yang lain, lebih sering menyebutnya sebagai masalah. Tetapi, kami selalu mengendalikan ucapan kami, pikiran kami untuk meletakkan kata tantangan dalam hal ini, karena dengan sendirinya kata itu sangat memberikan dampak positif pada setiap tingkah laku kami. Dibandingkan kami terus-terusan mengeluh. Ahh, senang sekali bisa hidup damai seperti ini....
***

Satu atau dua hari, air ini akan surut dengan sendirinya. Syukurnya, di belakang rumah kami ada satu rumah saudara kami yang kami bisa singgahi dan siap menerima kami, di saat-saat seperti ini.
Kupersilahkan ibuku menikmati hari ini di rumah saudaraku, sedangkan aku dengan senang hati ‘berjibaku’ membersihkan rumah terindah persembahan Tuhan Yang Maha Penyayang.
Aku petik buah keikhlasan ini sebagai kebahagiaan yang bisa aku rasakan, mungkin tidak semua orang bisa menghadapi hal ini dengan cara begini.
“Terimakasih, Tuhan,” senyumku kepada langit.
Akan aku lakukan hal yang sekecil-kecilnya yang bermanfaat untuk Ibu Pertiwi, karena di tempat yang penuh berkah ini aku bisa menjalani hari-hariku. Inilah universitas yang sesungguhnya yang harus aku lalui dengan sebaik-baiknya dengan penuh senyum, tawa, dan bahagia, Universitas Kehidupan.
Suatu saat nanti, jikalau Tuhan berkenan dan memantaskanku untuk menjadi pribadi yang dibesarkan olehNya dengan segala suka dukaNya, aku ingin menjadi sosok Menteri Lingkungan Hidup bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kucintai ini. Aku ingin memberi kesempatan bagi mereka yang bekerja tulus untuk bumi tercinta, yang selama ini yang melakoninya adalah kebanyakan dari mereka yang berasal dari ekonomi kelas bawah, untuk memperoleh penghormatan yang sejajar dengan mereka yang duduk di kursi mewah kepemerintahan negeri ini.
Aku ingin Bangsa Indonesia mencintai dengan tulus negerinya, dimulai dengan mencintai lingkungannya. Tidak perlu untuk saling mencaci dan merusak satu sama lain, tetapi alangkah baiknya berbenah diri dari hal-hal yang memang sangat kita butuhkan dan junjung tinggi, alam Sang Ibu Pertiwi.