RSS
Wecome to my Blog, enjoy reading :)
Tampilkan postingan dengan label semangat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label semangat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2011

Surat Penyesalan dari Sahabat di Tahun 2075




Aku terlelap dalam malamku, bermimpi menjumpai sosok sahabat, tapi aku tak kenal Ia siapa, bercakap-cakap tentang masa kehidupan, masa yang belum pernah aku jalani sebelumnya. Saat aku terbangun dalam aroma embun pagi, ‘tak segera aku membuka mata, aku lakukan ritual pagiku. Berterimakasih dengan badan terlentang dan cakupan tangan di dada, menyembah para guru dalam kepercayaanku. Guru swadyaya, Tuhan Yang Maha Esa atas anugrah terindahnya, hembusan nafas ini. Guru Rupaka, orang tua dan leluhurku, melahirkan dan memeliharaku hingga usia ini. Guru Pengajian, Guru pengetahuanku saat lampau, kini dan nanti, memberikan rajutan pengetahuan yang tak berujung. Guru Wisesa, pemerintah negeri pusaka ini, yang berjuang keras untuk memerintah dan bersedia menjadi pemimpin, mengemban tugas yang amat berat, tak peduli apa kata mereka, aku tetap hormat. Aku selesaikan ritual pagiku dan membalikkan badanku kearah kanan. Saat aku membuka kelopak mata dengan perlahan, aku mendapati sepucuk surat, hijau bertinta putih di samping wajahku....
Aku seperti mengenal alur keluhan cerita yang disajikan.



'Selamat datang di tahun 2075, Saudaraku. Tahukah kamu berapa umurku? Aku berumur 50 tahun, sebaya denganmu. Ya, seperti yang kuduga sebelumnya, kau pun telah sangat terkejut ketika aku menyampaikannya. Usia 85 tahunlah rupaku. Aku banyak mengalami masalah kesehatan, karena aku minum sangat sedikit air putih, dan terlalu banyak mengkonsumsi nikotin serta obat-obatan terlarang. Aku pikir aku tidak akan hidup lama lagi, sekarang aku adalah orang yang paling tua di wilayahku berada ini.
Dulu, semua sangat berbeda. Masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah memiliki halaman dan tanaman yang indah, aku sangat suka menikmati kesegaran alam, bermain di pantai dan langit biru yang mencerahkan mata hati. Sekarang, kami disini hanya dapat membersihkan badan kami sekali saja, dengan handuk basah yang terbasahi oleh air hujan yang kami tampung tujuh bulan sekali.
Sebelumnya, pepatah mengatakan bahwa rambutlah mahkota wanita, dan semua perempuan dibuat bangga olehnya. Namun kini kami harus memangkasnya habis agar kami dapat membersihkannya tanpa menggunakan air. Sebelumnya, ayahku membersihkan mobil dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng. Sekarang, anak-anak tidak dapat mempercayai bahwa air pada masa dahulu dapat digunakan untuk apa saja.
Aku ingat sekali dengan pesan sederhana yang amat dalam maknanya, aku dan kawananku sepelekan pada masa laluku. JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN, HEMATLAH MENGGUNAKAN AIR, BERTINDAKLAH HIJAU, SAYANGI SEMUA MAKHLUK, JADILAH VEGETARIAN UNTUK SELAMATKAN BUMI, dan masih banyak pesan-pesan yang kuabaikan pada masa lalu. Hanya segelintir orang yang memperhatikan hal tersebut. Mereka yang pada masa itu berjuang gigih menyerukan kalimat-kalimat singkat itu, aku kini menyembah dan merasa bersalah terhadap mereka. Sesungguhnya mereka adalah pahlawan, tapi apa daya, manusia-manusia pada masa lalu hidupku terlalu malu untuk menunjukkan kebaikan mereka dan sekarang mereka benar-benar merasakan akibatnya.
Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediannya yang tidak terbatas. Sekarang sungai, danau, bendungan, dan air bawah tanah, semuanya telah tercemar atau sama sekali kering.
Orang beranggapan sampah bukanlah masalah besar dibandingkan bisnis dan perekonomian, termasuk aku pada saat itu. Aku anggap mereka si munafik penyebar kesesatan, terlalu banyak bicara dan mengurusi orang lain. Aku bersujud, aku menyesal.
Pemandangan sekitar yang seperti kau lihat kini hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, karena terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang cepat saji, instan dan daging. Seharusnya mereka kita sayangi dan berikan hak yang sama untuk hidup melengkapi keseharian kita. Seandainya saat itu aku ikut kata sahabat untuk berhenti makan daging karena terlalu banyak melahap lahan hijauku untuk pembiakan tak wajar saudara-saudaraku yang berwujud hewan. Bahkan mereka sering disakiti. Air digunakan untuk membuat badan mereka lebih besar dan berat pada masa itu, sehingga laku terjual. Aku menyesal, aku tak bertindak meskipun melakukan hal kecil sekalipun.
Selain itu, penyakit kerusakan pada kulit-kulit manusia, keracunan dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu.
Dulu aku pernah berfikir bahwa aku tidak akan pernah peduli tentang apa yang orang bilang yang seharusnya tidak aku lakukan dan tidak aku makan. Aku berfikir aku tidak peduli, ‘toh semua nantinya akan mati’. Sekarang Sang Pencipta memberikannku melihat dan merasakan penderitaan ini. Rasa penyesalanku menambah sengsaraku kini. Para sahabatku yang dulu berjuang untuk bumi dan menyerukan hal bermanfaat itu kini telah tiada, mereka beruntung, mereka tidak merasakan kepahitan kami saat ini. Terlebih lagi mereka pergi tanpa kesakitan dan hanya tertidur lalu tak bernafas, namun tetap menebarkan senyuman dalam dinginnya tubuh yang tak lagi dialiri darah. Kami tertatih-tatih tak berdaya, penuh derita dalam jangka waktu yang lama.
Kau lihat pekerja itu? Ia hanya dibayar dengansegelas air hujan untuk diminum per harinya. Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Tak ada pepohonan, tak ada kicauan burung, tak ada kucing yang mengeong dengan manjanya, tak ada lagi anjing sebagai teman manusia.
Banyak orang yang menjarah air ditempat-tempat yang sepi. Mereka makan dari kotoran hewan yang hidupnya juga tertatih-tatih.
Sebelumnya rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sejak air menjadi barang langka, kami tidak dapat mencuci baju, pakaian bekas kami langsung buang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.
Ditoilet kami, kotoran menumpuk, karena tidak dapat larut lagi dalam septic tank. Bahkan tidak jarang kami mengeluarkan kotoran dari perut kami di halaman rumah kami.
Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan; tubuh sangat lemah, kulit pecah-pecah akibat dehidrasi, ada banyak koreng dan luka akibat sengatan matahari yang luar biasa. Karena keringnya kulit, perempuan yang berusia 19 seperti berusia 39 tahun. Para ilmuwan yang masih mengabdi telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar. Manusia tidak dapat membuat air.
Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya tingkat intelegensi generasi mendatang.
Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup: 137 m3 orang per hari. Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen. Udara yang ada di kawasan ini tidak berkualitas baik, tetapi setidaknya menyediakan cukup oksigen untuk bernafas. Umur manusia rata-rata adalah 30 tahun.
Di sini sitempatku tidak lagi ada pohon, karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun sering hujan, itu adalah hujan asam. Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abat 20 akibat efek rumah kaca dan polusi. Efek rumah kaca yang memang benar disebabkan oleh amoniak kotoran hewan yang berlebihan (zat metana).
Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tapi tidak ada yang peduli.
Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu. Aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau. Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana segarnya manusia saat itu.
Ayah mengapa tidak ada air sekarang? Aku merasa seperti ada yang menarik lidahku saat akan menjawab pertanyaan itu.
Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian...dan banyak orang lain juga !!!!!!
Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa berubah, sehingga dapat mengubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukannya.
Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya.
Sejujurnya dengan situasi ini, kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran akibat ulah manusia (yang konon katanya makhluk paling pintar di muka bumi ini) sudah mencapai titik akhir.

Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi....Pada saat itu, masih ada waktu dan kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini.
Aku hadir dalam mimpimu, karena aku tahu engkau mampu untuk membantu masa depan saudara uneversal kita, meski hanya tindakan kecil, pasti akan sangat bermanfaat. Jangan berhenti untuk berbuat kebaikan besar demi bumi ini. Sampaikan surat ini kepada semua orang, meski hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang. Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadihal yang nyata dan terjadi di sekitarmu, pada masa kehidupanmu ini,bukan? Lakukan untuk anak dan keturunanmu kelak.’

Aku menangis dalam diam, ini benar-benar bukan sekedar mimpi. Semangat ini bertambah besar 10.000.000.000.000 kali lipat bahkan lebih. KITA HARUS BERTINDAK.

kolaborasi untaian kata pada majalah Cronica de los Tiempos yang terbit di tahun 2002 (free translation by: Yuliana Suliyanti 2007) dengan Ni Putu Ayu Striratna

tambahan informasi bermanfaat untuk menunjang keakuratan data 'fakta bumi kini' dapat dilihat di:
http://suprememastertv.com/ina/

Kamis, 25 November 2010

Jika Aku Menjadi Menteri Lingkungan Hidup





“Apakah sesungguhnya ia ingin tahu semuanya? Semua tentang kejadian sesungguhnya.... Ini semua hanya karena kau menyakitiku. Kau yang selama ini memberikanku senyuman. Menutupi semua kesakitan menit-menitku.... Aku hanyalah sehelai rumput kuning, kering.... Bergoyang kaku ketika ia menghembuskan anginnya padaku.... Bertahun-tahun menanti.... Namun hujan tak kunjung menghijaukanku.... Meski sesungguhnya setetes mereka telah memberiku, sayang aku tetaplah rumput....
Wahai belalang, apalah yang bisa aku berikan kepadamu, lihatlah yang kupunya hanya sehelai daun kering...itupun hidupku. Andai kau ingin memakannya, makanlah.... Meski itulah saat terakhir aku melihatmu di dunia ini. Dunia yang kian mengering oleh tangan tak bertanggungjawab.”
"Selamat pagi, Pak. Ini dengan Ina di Tunjung Biru, saya minta tolong, kali yang cukup besar di dekat rumah saya penuh dengan sampah," suaraku yang lembut menyapa operator Dinas Kebersihan Perkotaan di pagi yang lembab oleh hujan.
"Tunggu sebentar ya, dik. Saya sambungkan ke bagian Pekerjaan Umum, nanti bisa langsung berbicara dengan pihak PU," sahutnya.
"Terimakasih, Pak," timpalku.
"Halo, selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Selamat pagi, Bu. Saya salah satu warga di Tunjung Biru, saya ingin meminta bantuan pekerja PU untuk membersihkan sungai yang ada di seputaran...”
“Tunggu sebentar ya, Dik. Saya panggilkan pimpinan pekerjanya,” potong operator itu.
Kupandangi putaran detik jam dindingku, seolah dia berkata, “Berapa kali kau telah menghubungi para pekerja itu untuk memohon bantuan, tidakkah kau merasa iba dengan perjuangan mereka?”
“Tentu saja aku iba.”
“Bagaimana, Dik. Ada yang bisa saya bantu?” sahutya dengan lembut dari seberang sana.
Sejenak ‘ku tertegun mendengar nada suaranya yang penuh dengan semangat pelayanan yang ‘tak kenal lelah.
“Halo?” dia memastikan, bahwa masih ada nafas diseberang sini.
“Iya, Pak. Selamat pagi, perkenalkan nama saya Ina, saya yang biasanya menghubungi PU ketika air kali di dekat rumah saya meluap. Pagi ini saya meminta bantuan bapak-bapak pekerja PU sehubungan dengan hal ini. Maaf merepotkan, Pak,” dengan lembut kulantunkan permintaanku.
“Iya, Dik. Saya cek terlebih dahulu petugas disini, di daerah mana itu tempatnya? Juga sertakan nomer telepon adik,” timpalnya.
Oh, Tuhan.... Berkatilah orang-orang seperti mereka ini, ‘tak kuasa aku menahan butiran air mataku yang telah menari lembut, memaksa mengalir tetes demi tetes. Sensitif, itulah aku. Satu hal yang dapat aku pelajari dari sisi melankolisku ini adalah saat aku terenyuh, mata batin terbuka, merasakan apa yang aku rasa yang aku pikir itu adalah hal yang patut untuk dirangkul, terutama mereka yang terlihat jauh kurang beruntung oleh si kedua bola mata. Namun, sesungguhnya mereka jauh lebih beruntung dibandingkan mereka yang tidur beralaskan kasur yang terbuat dari karet, yang konon sangat nyaman dan empuk, berbantal bulu angsa, dan berselimutkan bulu domba berkulit tebal dan halus. Karena dibalik semua pengorbanan dan pembelajaran akan ‘kekurangberuntungannya’ itu, suatu saat nanti mereka akan lebih siap menerima apapun yang dipersembahkan Tuhan kepada mereka.
“Terimakasih, Pak,” kata itu mengalun setelah kusampaikan detil dimana tempat daerahku tinggal berada.
***
Aku berdiri disini, di pinggiran kali yang telah menyerupai daratan basah. Air yang seharusnya menjadi penghuni utama kali itu telah mengalir, memenuhi petak-petak persawahan yang ada disampingnya. Sungguh malang nasib petani penanam benih padi yang baru saja ditanam seminggu sebelum hari ini, sawahnya tebenam dengan air kali ini.
Sembari kumenanti kedatangan para petugas, aku pandangi keseluruhan isi kali itu.
"Ah, plastik. Sang air sebagai penghuni utama mungkin telah menobatkannya sebagai kerabat terdekatnya saat ini," gerutuku.
Bagaimana bisa mereka melakukan perbuatan ini, seperti 'tak ada cara lain untuk mengatasi kasur yang sudah lapuk buat mereka, terlalu.
"Cekriiiiit...," suara kamera kantong milik paman yang sengaja aku pinjam untuk mengabadikan hasil dari pola perilaku anak manusia yang mungkin sudah 'tak lagi memiliki akal sehat.
Mataku masih mencari-cari 'mangsa', apa yang sekiranya 'unik' untuk ditangkap meski 'tak sedap dipandang mata.
Astaga, bangkai babi yang ‘tak bernyawa pun mereka buang di tempat ini. Aku tidak mengerti bagaimana jalan pikiran mereka.
“Mungkin memang sudah harus menjadi nasibmu, oh babi, diperlakukan seperti ini oleh pemilikmu, habis manis sepah dibuang. Semoga suatu saat nanti kau diberikan kesempatan untuk menjadi makhluk seperti kami, dan memperbaiki semua hidupmu,” kulantunkan doa perpisahan untuknya.
"Hidupmu indah, bila kau tahu, jalan mana yang benar...," nada ini samar-samar keluar dari kantong celanaku.
"Na, kamu masih di depan Tunjung Biru? Apa pertugas kebersihannya sudah datang? Airnya sudah semakin tinggi, dari yang hanya membanjiri halaman kita, mengalir sampai ke ruang tamu," bunyi pesan singkat yang baru saja kubaca.
Terkadang aku berpikir disinilah letak ketidakadilan Sang Pencipta.
“Mereka yang melakukan perbuatan ini, mengapa harus kami yang menjunjung tinggi nilai persahabatan dengan alam yang mengalami hasil dari buah perbuatan mereka,” pikiran liarku memenuhi kepalaku.
Oh, maafkan hamba, Tuhan. Beberapa detik yang telah lalu, aku tidak dapat mengendalikan pikiran liarku. Aku kembali menetralisir pikiranku dengan mengambil sisi positif, apa yang terjadi sehubungan dengan hal ini.
Meski sekarang aku begitu menyayangi alam, menyerukan kecintaan untuk alam kepada siapa saja, mungkin yang terjadi kali ini adalah buah hasil perbuatan di masa laluku, mungkin saat lalu aku ‘tak memiliki hati nurani kepada sang alam.
***

“Selamat pagi, Bu. Saya Ina yang sekitar dua jam yang lalu menghubungi kantor Pekerjaan Umum, ingin sedikit bertanya, apakah sudah ada petugas yang akan turun untuk membantu kami membersihkan kali besar di Jalan Tunjung Biru?” kuhabiskan lagi kredit pulsaku untuk memastikannya.
“Maaf, Dik. Mungkin saja masih dalam perjalanan, mohon ditunggu sebentar, karena petugas kami tidak hanya bekerja untuk membersihkan kali yang ada di dekat rumah adik Ina saja. Ini di dekat rumah adik sering sekali rasanya kalinya sampai kepenuhan dengan sampah-sampah yang ‘tak sewajarnya di buang disana, bagaimana itu masyarakat disana tidak bisa beretika, moralnya sangat tidak bagus sekali,” keluh operator yang rupanya kali ini adalah seorang bapak.
“Iya, Pak. Maaf sekali saya yang selalu menelepon dan selalu merepotkan bapak-bapak pekerja umum,” nadaku lirih.
“Coba sekali-sekali dibiarkan begitu, Dik. Biar tahu rasa mereka. Terkadang kami juga lelah menghadapinya. Siapa disana ketua lingkungannya?” nadanya ketus.
“Saya juga inginnya memberi ganjaran yang setimpal, Pak. Agar mereka yang membuang sampah disanalah yang menanggung akibat dari perbuatan mereka yang ‘tak bermoral. Tapi apa boleh dibuat, Pak, Tuhan berkata lain. Air itu selalu mengalir ke rumah saya dan sanak saudara yang kebetulan bertetangga dengan saya. Padahal kami sama sekali tidak pernah membuang sampah ke tempat itu, sekalipun hanya dedaunan kering. Menyayangi alam selalu menjadi moral utama yang ditanamkan keluarga bahkan sesepuh kami kepada anak cucunya,” mungkin ini adalah curahan hatiku kepada bapak itu.
“Baiklah, terimakasih ya, Dik. Sesungguhnya, saya sebagai kepala bagian disini, merasa sangat senang sekali apabila masyarakat Denpasar khususnya masih ada yang peduli dan mau menghubungi PU. Nanti, jangan bosan-bosan untuk menelepon ya, kami akan layani,” sahutnya.
Kurasakan air mataku menetes lembut di pipiku. Ahh, sisi sensitifku selalu saja berperan aktif, aku terharu.
Terimakasih Tuhan telah menciptakan orang-orang terbaik untuk bumiMu tercinta ini. Mereka yang rela melakukan hal-hal yang sangat belum tentu orang lain mau melakukannya, dengan upah yang tak sebanding. Mereka turun ke ruang yang sesak penuh dengan kumpulan barang-barang bekas yang tak bertuan. Sedikit demi sedikit seisi kali itu dikeluarkan, dikumpulkan dengan truk hijau besar yang selalu menemani para petugas itu saat bekerja dengan penuh ikhlas. Sesekali mereka menyelam ke dasar kali, memasuki daerah bawah jembatan untuk memastikan apakah ada yang tertinggal untuk mereka angkut ke atas.
“Dapatkah kau bayangkan itu, kawan?” tanyaku dalam hati.
Hatiku terasa perih, namun aku tak ingin mengeluarkan tangisku di hadapan mereka, kutemani mereka yang bekerja sambil tersenyum dan bernyanyi-nyanyi kecil. Kali ini imbalan yang bisa aku berikan kepada mereka adalah senyum termanis dan doa tulusku untuk mereka. Kukirimkan pesan kepada Yang Kuasa, aku ingin mereka selalu hidup sehat, sejahtera, dan berkecukupan.
“Terimakasih bapak-bapak semuanya,” pamitku serta jabat tangan yang hangat dengan mereka.
Pembelajaran yang aku dapatkan dari hal ini adalah semua pekerjaan yang dilakoni setiap manusia di dalam kehidupan ini sangatlah berguna. Tidaklah perlu kita memandang dengan sebelah mata bagaimana mereka melakukannya. Mungkin mereka yang lain memandang pekerjaan ini adalah pekerjaan yang ‘tak bermartabat. Tetapi, di mata Tuhan, justru merekalah yang dibesarkan untuk menjadi bermartabat. Rangkulah siapa saja, siapa saja....
***

Kuberjalan pelan menuju rumah, dan sesampainya aku dirumah, kudapati rumahku serta dua rumah lainnya tergenang air. Tapi bisa dikatakan, di tempatku berteduhlah yang paling menampung banyak air, terlihat seperti rakit beratap yang sedang mengapung.
Ini bukan kali pertama aku mengalami hal ini. Sejak tahun lalu, ini sudah terjadi selama empat kali dalam dua tahun ini.
“Bu, petugasnya sudah datang. Tapi sedikit agak terlambat ya, Bu. Rumah kita sudah tergenang mendahului kedatangan mereka,” kata sambutanku kepada ibuku.
“Tidak apa-apa, ini belum separah lumpur lapindo,” sahut ibuku.
Ibuku adalah sosok selalu mengajarkan aku untuk berpikir positif di dalam menghadapi suatu tantangan seperti ini.
Ya, tantangan. Kami lebih senang menyebutnya tantangan. Mungkin bagi mereka yang lain, lebih sering menyebutnya sebagai masalah. Tetapi, kami selalu mengendalikan ucapan kami, pikiran kami untuk meletakkan kata tantangan dalam hal ini, karena dengan sendirinya kata itu sangat memberikan dampak positif pada setiap tingkah laku kami. Dibandingkan kami terus-terusan mengeluh. Ahh, senang sekali bisa hidup damai seperti ini....
***

Satu atau dua hari, air ini akan surut dengan sendirinya. Syukurnya, di belakang rumah kami ada satu rumah saudara kami yang kami bisa singgahi dan siap menerima kami, di saat-saat seperti ini.
Kupersilahkan ibuku menikmati hari ini di rumah saudaraku, sedangkan aku dengan senang hati ‘berjibaku’ membersihkan rumah terindah persembahan Tuhan Yang Maha Penyayang.
Aku petik buah keikhlasan ini sebagai kebahagiaan yang bisa aku rasakan, mungkin tidak semua orang bisa menghadapi hal ini dengan cara begini.
“Terimakasih, Tuhan,” senyumku kepada langit.
Akan aku lakukan hal yang sekecil-kecilnya yang bermanfaat untuk Ibu Pertiwi, karena di tempat yang penuh berkah ini aku bisa menjalani hari-hariku. Inilah universitas yang sesungguhnya yang harus aku lalui dengan sebaik-baiknya dengan penuh senyum, tawa, dan bahagia, Universitas Kehidupan.
Suatu saat nanti, jikalau Tuhan berkenan dan memantaskanku untuk menjadi pribadi yang dibesarkan olehNya dengan segala suka dukaNya, aku ingin menjadi sosok Menteri Lingkungan Hidup bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kucintai ini. Aku ingin memberi kesempatan bagi mereka yang bekerja tulus untuk bumi tercinta, yang selama ini yang melakoninya adalah kebanyakan dari mereka yang berasal dari ekonomi kelas bawah, untuk memperoleh penghormatan yang sejajar dengan mereka yang duduk di kursi mewah kepemerintahan negeri ini.
Aku ingin Bangsa Indonesia mencintai dengan tulus negerinya, dimulai dengan mencintai lingkungannya. Tidak perlu untuk saling mencaci dan merusak satu sama lain, tetapi alangkah baiknya berbenah diri dari hal-hal yang memang sangat kita butuhkan dan junjung tinggi, alam Sang Ibu Pertiwi.